Sabtu, 21 September 2013

ekskavasi



Sakit yang aku derita sungguh sangat tidak kusangka akan mengalaminya. Aku pikir bahwa diriku adalah orang yang kuat. Aku bisa disembarang tempat dan makan makanan sembarang saja. Tetapi Allah memberiku cobaan yang begitu pahit. Aku dihadapkan oleh pilihan yang sangat sulit. Berkumpul dengan teman2 angkatanku adalah sesuatu yang sangat hebat. Aku sangat mencintai teman angkatanku dan Allah tau itu. Bahkan, aku belum menyerah disaat kondisiku benar2 sudah tidak mampu. Aku ingin ikut ke landasstular karena mereka. Aku tidak perlu menjelaskan ini dan itu karena aku membuktikannya. Sampai saat hari terakhir aku tidak bisa pulang dan salah satu teman angkatanku mengantarku pulang. Gorbi pranata yesaya, teman yang sangat hebat menurutku. Selalu membantuku. Aku sungguh tulus berteman dengan semua teman angkatanku. Aku tidak menggunakan politik memanfaatkan seperti yang banyak orang lakukan. Saat aku diantar pulang tak terasa aku meneteskan air mata petanda menyesal tidak bisa ikut. Bahkan tanggal 3 Mei aku masih ingin ikut. Membayar uang ransum sudah kulakukan, beli tempe untuk ransum, dan barang yang telah ku packing harus bersedih. kata keluargaku ״kau ingin mati di Enrekang jika kau ikut?. ingat kondisimu,kondisi dan kesehatanmu drop”
Aku sangat menyesal tidak bisa ikut. Tetapi aku memikirkan kondisiku. Mungkin inilah yang terbaik bagiku untuk saat ini. Radang tenggorokan memang penyakitku dan ayahku. Tenggorokanku sangat sensitive. Aku bahkan tidak bisa berjalan dengan baik karena kondisi sangat lemah. Tapi inilah kali pertama yang terjadi padaku. Tenggorokanku bernanah. Bahkan jika kondisiku tak kunjung sembuh aku akan dibawa ke dokter spesialis THT. Maafkan aku teman2, aku sungguh menyesal ini terjadi. Sungguh aku sangat mencintai kalian. Kini aku akan pulang kampung untuk istirahat. Di sana ada orang tuaku yang akan merawatku. Bukan berarti di Makassar aku tidak mendapat kasih sayang. Perawatan disini juga sungguh luar biasa yang dilakukan kakak, adik dan kakak ipar serta sepupuku. Tetapi aku kasihan melihat kakakku yang rutinitasnya sangat padat. Ngantor, mengurus anak dan rumah tangganya.
Terima kasih untuk keluargaku yang memberikan pelayanan terbaiknya untukku. Aku tidak pernah salah karena menganggap bahwa keluargaku adalah terbaik dan terpenting bagiku.

Kamis, 05 Januari 2012

semiotika



REVIEW OF BOOK ARCHAELOGY, DISCOVERING OUR PAST

OLEH:

SARTIKA B.
F61108272

JURUSAN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010



Dalam materi atau buku yang telah saya baca dapat saya simpulkan bahwa pada awalnya dijelaskan tentang ideologi. Selanjutnya menjelaskan tentang simbol. Simbol tidak hanya dilihat dari ada gambar dan maknanya. Artinya ketika melihat penanda dan petanda maka diketahuilah simbolnya. Simbol juga dapat dilihat dari ada artefak atau bendanya kemudian dilanjutkan dengan aktivitasnya itu juga dapat dikatakan simbol. Sesuai dengan buku yang saya telah terjemahkan yang memberi contoh ketika orang sedang melakukan upacara bendera dan saat dimintai untuk hormat,maka secara langsung akan hormat. Penandanya adalah bendera, sedangkan petandanya adalah rasa patriotisme ditandai dengan memberi hormat pada bendera.
           
            Buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana sebuah simbol digunakan dalam upacara adat. Salah satu contohnya adalah bagaimana sebuah jembatan sangat berguna untuk sampai ke tempat yang dituju. Simbol sangat penting dalam menginterpretasi. Dalam penafsiran simbol, yang pertama akan muncul di benak kita ide-ide atau ideologi. Setelah itu identifikasi benda atau simbol dilakukan. Identifikasi akan menghasilkan makna-makna yang berasal dari simbol. Setelah identifikasi makna yang paling mendekati kebenaran yang akan dijadikan sebagai sebuah data yang dipakai terus-menerus. Kesimpulan makna terkuat, dari makna emik, dan terjadi dalam konteks sejarah. Manusia atau animal simbol disebut dalam contoh peng-identifikasi simbol. Salah satu contoh yang dituliskan di buku ini adalah ketika Penggambaran dari banyak dewa pra-Columbian Mesoamerica, ditemukan dalam konteks arkeologi, dapat diidentifikasi berdasarkan nama, dan karakteristik khusus yang disimpulkan, berdasarkan naskah tertulis pada saat penjajahan spanyol. Intinya adalah dalam mencapai kesimpilan sesungguhnya di lihat dari yang paling mendekati berdasarkan bukti-bukti.  
            Arkeolog terkadang mengalami kesulitan ketika melakukan identifikasi gambar. Sebagai contoh gua-gua prasejarah paleolithik. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa zaman paleolithik jangka waktunya sangat jauh. Dalam mengidentifikasi gambar di gua-gua prasejarah yang beasal dari zaman paleolithik, dibutuhkan analog-analog yang bisa menganalogi. Bantuan ini diharapkan dapat membantu arkeolog dalam mengambil kesimpulan yang akan mendekati kebenaran. Selain pendekatan yang mendekati kebenaran juga dibutuhkan pendekatan yang mendekati objektifitas. Representasi dari kehidupan kuno yang banyak semakin sulit, maka untuk mengidentifikasi dan menginterpretasikan lebih simbolisme dengan cara yang abstrak atau dipersingkat. Manusia bersimbol, karena manusia menggunakan simbol untuk menyampaikan apa yang dimaksudkan dari simbol yang digambarkan. Manusia berharap dengan bersimbol akan menyampaikan sesuatu itulah harapan dari manusia bersimbol. Ada makna-makna tersendiri yang ingin disampaikan, jadi manusia disebut mahluk yang bersimbol.


           

semiotika


BAB I
PENDAHULUAN
Pengantar
Makalah yang dibuat dengan tujuan mengajukan suatu kemungkinan untuk membuat suatu analisis semiotic terhadap suatu peninggalan purbakala, dalam hal ini sebuah candi. Kita tidak dapat lagi menghubungi para pembuatnya untuk menanyakan apa maksud, tujuan, serta, strategi mereka membuat benda dalam wujud seperti yang kita jumpai sekarang. Karena itu, analisis semiotic terhadap suatu peninggalan purbakala hanyalah dapat dilakukan apabila berbagai keterangan mengenai peninggalan tersebut sudah diketahui, baik dari kajian perbandingan sesame temuan maupun dari informasi yang diberikan oleh sumber-sumber tertulis sezaman. Persyaratan terakhir inilah yang membawa saya kepada pilihan candi jago, sebuah candi yang telah memilki berbagai keterangan saja.












BAB II
PEMBAHASAN
SEMIOTIKA DALAM ARKEOLOGI: CANDI JAGO DALAM TINJAUAN SEMIOTIK
Candi jago
            Susunan candi jago menyerupai bangunan berteras-undak-susun yang menempel pada lereng gunung, meskipun sesungguhnya bangunan ini didirikan di atas tanah datar. Bangunan teras bersusun tiga ini hanya mempunyai tangga disisi barat bagi setiap terasnya. Teras terbawah dengan sendirinya adalah yang paling luas. Teras kedua dan ketiga diatasnya serta ruang utama di puncaknya, masing-masing lebih kecil daripada teras di bawahnya, semuanya berangsur-angsur bergeser ke belakang kea rah timur.
Berbeda dengan rangkaian-rangkaian relief yang sebagian besar diambil dari khasanah sastra Hindu itu, arca-arca yang ditempatkan di dalam candi jago itu sepenuhnya bersifat Buddha. Arca utama menggambarkan Amoghapasa, yaitu salah satu wujud bodhisattwa Awalokiteswara, yang dalam hal ini berkedudukan di pusat mandala(lambing kosmos dalam ajaran agama Buddha Tantrayana). Dewata pusat ini didampingi di kiri dan kanannya oleh dua pasang dewa-dewi, yaitu Hayagriwa bersama Bhrkuti di sisi kiri, dan sudhana-kumara bersama syamatara di sisi kanannya. Di halaman candi itu terdapat pula arca-arca Buddha yang lebih kecil, yang tak diketahui lagi secara tepat tempat aslinya di dalam candi. Sifat Buddha dari arca-arca tersebut diketahui dari inskripsi-inskripsi pendek yang tertera padanya.
Kerangka konsep untuk analisis
Pembentukan konsep yang digunakan adalah yang telah dikenal dalam bidang kajian yang bersangkutan. Dalam hal ini yang diambil acuan adalah terbatas pada upaya-upaya pembentukan konsep yang telah dilakukan oleh Charles Sanders Peirce dan Edmund Leach (1986). Konsep-konsep beserta penamaannya perlu diberi pembatasannya. Konsep-konsep yang akan digunakan dalam bahasan ini adalah yang berkaitan dengan tanda dan penandaan, sesuai dengan cakupan kajian semiotik. Namun, konsep-konsep tersebut akan dilihat khususnya yang dapat digunakan untuk menganalisis perwujudan-perwujudan kebudayaan. Hal-hal yang menyangkut makna semiotik yang lebih luas, yang berkenaan dengan proses komunikasi serta sebab-akibat yang berlangsung di alam semesta yang lebih luas untuk sementara ini diabaikan.
            Istilah generic yang hendak dikemukakan dalam makalah ini adalah tanda (dalam bahasa Inggris sign), dalam bahasa Belanda teken ). Pengertian yang diwakili oleh istilah ini selanjutnya harus dibagi kedalam taksonomi dari kelas-kelas tanda yang dapat diperbedakan satu sama lain. Dengan kata lain, tanda atau sign adalah suatu kategori merupakan satu kelas yang mempunyai kekhasan dalam hal fungsinya untuk menghubungkan tanda dengan yang ditandakan.
            Kelas-kelas tanda, berturut-turut dari yang paling ketat hingga yang paling longgar hubungannya dengan yang ditandainya adalah seperti tercantum berikut. Dalam penjelasan mengenai masing-masing dari kelas tandai itu, tanda diberi lambing A,  sedangkan yang ditandakan dilambangkan dengan B,
(1)   Sinyal
Menunjukkan suatu hubungan kausal, dalam hal ini “B menyebabkan A melalui suatu respons terpicu”,
(2)   Indeks
“A menunjukkan B”, yang mempunyai dua variasi, yaitu “A menunjukkan arah B”, dan A” menunjukkan adanya B”,
(3)   Ikon
“A mewakili B melalui modus kemiripan”,
(4)   Simbol
“A mewakili B semata-mata karena konvensi, tanpa ada hubungan kemiripan antara keduanya”,
Pembuatan serta penafsiran untuk pemahaman tanda-tanda itu terjadi dalam masyarakat yang memiliki kebudayaan tertentu. Simbol sebagai tanda yang arbitrer, dengan demikian adalah yang paling dibatasi oleh kebudayaan. Sebaliknya, semakin ketat hubungannya antara yang ditandakan dan tandanya, sehingga menjadi seolah-olah semakin bersifat “dengan sendirinya”, semakin universallah pemahaman akan hubungan itu.
            Dalam hal ini perlu puladiperhatikan bahwa, meskipun seluruh proses pembuatan dan penafsiran tanda itu terjadi dalam masyarakat, tidak semua tanda adalah buatan manusia. Gejala-gejala atau unsure-unsur alamiah sering diterima manusia sebagai tanda. Dalam hal itu proses yang terjadi dalam hal pemahaman tanda tetap bersifat budaya. Tanda sebagai kategori budaya memerlukan persyaratan bahwa ia harus berfungsi melalui medium persepsi manusia dengan alat-alat indera sebagai salurannya, dan bahwa suatu prose belajar diperlukan untuk memungkinkan tanda tersebut berfungsi.

Sistem penandaan pada candi jago
            Menggunakan konsep-konsep tersebut diatas, dapatlah dicari system penandaan  yang melatari struktur candi Jago. Dapat dikatakan ada tiga unsure yang membentuk keseluruhan struktur Candi Jago, yaitu (a) susunan bangunannya; (b) rangkaian reliefnya; dan (c) tata arcanya. Berikut ini akan diperhatikan setiap unsure tersebut.
Susunan bangunan
            Dalam bangunan ini memiliki penandaan berupa dan ikon dalam hal susunan bangunan ini. Desain bangunan ini, dengan teras-teras bertingkat yang semua tangganya terdapat di sisi barat merupakan indeks untuk menunjukkan bahwa orang harus memasuki candi tersebut dari arah barat. Adanya selasar yang dibentuk oleh selisih lebar dan panjang antar teras juga merupakan Indeks bahwa orang harus melakukan perjalanan mengelilingi badan masing-masing teras.
Keseluruhan Sruktur sebagai ikon
            Dugaan dapat dikemukakan bahwa keseluruhan struktur Candi Jago, yang terdiri atas susunan bangunan, rangkaian relief, serta tata arca, merupakan ikon dari situasi keagamaan pada masa pendirian candi tersebut. Paling sedikit, candi ini merupakan ikon dari situasi keagamaan sebagaimana dilihat oleh para penguasa yang memegang peran sebagai pengambil keputusan dalam pembangunan candi itu.
Desain “altar gunung” diambil bagi Candi Jago ini mungkin untuk mengakui adanya kepercayaan dan pemujaan kepada Dewa Gunung yang dianut oleh kalangan pertapa pada khusunya, dan rakyat banyak pada umunya. Bahkan, kepercayaan ini mungkin sekali diintegrasikan ke dalam system kepercayaan agama Buddha melalui konsep gotra.
            Peletakan cerita arjunawiwaha di lingkungan teratas dari bangunan ini memerlukan penafsiran tersendiri.  Cerita ini yang berintikan keutamaan tapa serta buah yang didapat darinya, mungkin dilihat sebagai puncak pencapaian dari suatu proses pelaksanaan kegiatan keagamaan, proses yang secara keseluruhan diwujudkan sebagai ikon dalam bentuk keseluruhan struktur candi tersebut.
            Demikian telah dianjurkan analisis untuk menduga bagaimana sutau candi dibuat melalui suatu proses penandaan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Pesan-pesan itu dapat secara langsung disampaikan. Konsep-konsep tertentu diwujudkan secara fisik, dan dapat pula berupa pesan tak langsung. Dalam hal dihadapkan pada keharusan untuk menafsirkan kembali tanda-tanda yang dibuat pada masa lalu. Selalu ada kemungkinan bahwa di sini terdapat komunikasi tanda yang luput.























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Keseluruhan struktur Candi Jago, yang terdiri atas susunan bangunan, rangkaian relief, serta tata arca, merupakan ikon dari situasi keagamaan pada masa pendirian candi. Symbol sebagai penafsiran dibatasi oleh kebudayaan.
Sutau candi dibuat melalui suatu proses penandaan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Pesan-pesan itu dapat secara langsung disampaikan. Konsep-konsep tertentu diwujudkan secara fisik, dan dapat pula berupa pesan tak langsung. Dalam hal dihadapkan pada keharusan untuk menafsirkan kembali tanda-tanda yang dibuat pada masa lalu. Selalu ada kemungkinan bahwa di sini terdapat komunikasi tanda yang luput.



Kamis, 09 Juni 2011

TUGASKU



BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar belakang
                             Secara etimologi Arkeologi berasal dari kata archaeology, archae artinya tua dan logos artinya ilmu. Sedangkan, secara terminologi arkeologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lampau melalui sisa-sisa peninggalannya. Dalam mempelajari peninggalan masa lampau dapat melalui pendidikan dan lembaga.

B.     Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan sebagai bentuk pengetahuan umum atau pengetahuan dasar. Namun secara khusus laporan ini bertujuan melaporkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan terhadap objek-objek Arkeologi di Bantaeng.

C.    Metode Pengumpulan Data
Metode pegumpulan data yang saya lakukan yaitu dengan kajian pustaka dan juga pengumpulan data dilapangan.
C.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka ini berupa gambaran umum lokasi Bantaeng yang diakses di internet pada Sabtu, 30 Maret 2010 dan buku tentang Bantaeng.
C.2 Wawancara
Teknik pengumpulan data ini berupa tanya jawab langsung terhadap masyarakat setempat.
C.3 Fotografi
Pengambilan data ini berupa pemotretan pada temuan yang didapat dilapangan. Yang didalamnya terdapat skala dan penunjuk arah.
C.4 Deskripsi
Yang dimaksud dengan deskripsi yaitu penggambaran baik itu situs, temuan, maupun lingkungan secara objektif. 

BAB II
PEMBAHASAN


A.    GAMBARAN UMUM LOKASI
A.1 Letak Geografis 
Secara geografis, Kabupaten Bantaeng dengan Kecamatan Bantaeng sebagai ibukota kabupaten terletak ± 120 km arah selatan kota Makassar, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa dan Bulukumba di sebelah utara, Kabupaten Bulukumba di sebelah timur, Laut flores di sebelah selatan dan Kabupaten Jeneponto di sebelah barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah daratan 395,83 km² atau 39.583 Ha dengan luas wilayah lautnya sebesar 144 km². Dengan demikian luas wilayah Kabupaten Bantaeng keseluruhan sebesar 539,83 km².Secara administratif, wilayah pemerintahan terdiri atas 6 wilayah Kecamatan, 45 desa dan 21 kelurahan, 102 dusun, 41 lingkungan, 395 RW dan 1.037 RT. Keenam kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Bissapu, Bantaeng, Tompobulu, Uluere, Pa’jukukang, dan Eremerasa (Anonim,2009).

           A.2 Topografi
                                    Wilayah Kabupaten ini mempunyai wilayah dengan ketinggian 0 – 25 m sampai dengan lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah dengan ketinggian 0 – 25 m dari permukaan laut, merupakan bagian terkecil (10,3%) sedangkan wilayah dengan ketinggian 100–500 meter di atas permukaan laut merupakan bagian terbesar (29,6%) dari wilayah Kabupaten Bantaeng (Anonim,2009).

B.   HASIL PENGUMPULAN DATA
                          Kehidupan manusia masa lampau, kita harus meninjau dari data yang diperoleh dari berbagai sumber dan benda-benda sisa peninggalan kehidupan manusia di masa lampau. Adapun lokasi yang dikunjungi mengenai bukti kehidupan manusia masa lampau di kota Bantaeng berdasakan hasil data yang dikumpulkan, maka situs-situs yang berhasil di data yaitu Lembang Gantarangkeke Gantarangkeke, Onto, Latenriruwa, dan Gua Batu Ejayya tetapi penelitian yang saya lakukan lebih spesifik di situs Gantarangkeke . Berikut adalah hasil pengumpulan datanya:

C. SITUS GANTARANGKEKE
C.1  Deskripsi
C.1.1  Deskripsi Lingkungan
               Di sekitar situs ini terdapat pohon coklat, ladang jagung, langsat, sawah, mangga, kapuk, ubi,  pisang, tanaman paku. Jika dilihat dari kondisi lingkungan sekitar situs maka dapat dikatakan bahwa mata pencaharian masyarakat sekitar yaitu bertani dan berkebun.
C.1.2  Deskripsi Situs
              Situs ini berada di desa Gantarangkeke, kecamatan Gantarangkeke, kabupaten Bantaeng. Secara astronomi situs ini berada pada 05º 29’ 37,26’’ LS dan 120º 01’ 40,5’’ BT. Dalam situs ini terdapat beberapa temuan yang diantaranya Passauangeng taua, Butta Silanta, Pocci Butta, dan Balla Lompoa.
C.1.3  Deskripsi Temuan
  a. Passaungeng Taua
                        Temuan ini menyerupai bentuk segi empat yang dikelilingi oleh batu tersusun rapi yang juga berfungsi  sebagai pagar. Temuan ini menghadap ke utara dengan lebar pintu sekitar 80 cm, panjang utara ke selatan dan barat ke timur masing-masing 10 meter, dengan tebal tumpukan batu yang dijadikan sebagai pagar adalah 1,5 meter. Disamping temuan ini terdapat pula temuan berupa paddaraengang dengan jumlah lubangnya ada 12 lubang.

                 
                   Gb.1 passaungan taua                                               Gb.2 Paddadaraenngang                                                                                  
                                                                                 Doc : Suryatman

b.    Pocci Butta
              Temuan ini dibatasi oleh pohon kapuk disebelah utara, batu dengan tinggi sekitar 2 meter disebelah timur, sedangkan disebelah barat dan selatan terdapat rumah penduduk. Berdasarkan letak astronomisnya yaitu05° 30’ 01” LS dan 120° 01’ 35,9” BT. Bentuk temuan ini menyerupai bundaran yang dikelilingi oleh batu  bersusun, dimana batu ini digunakan sebagai pagar. Ditengahnya terdapat batu. Tinggi susunan batu yang dijadikan sebagai pagar adalah 45 cm, dengan  lebarnya  70 cm.

Gb.3 temuan Pocci Butta di Gantarangkeke
Doc : Suryatman
c.    Balla Lompoa
              Temuan ini menghadap ke utara, begitupula pintunya. Sebelah utara adalah tempat istirahat berupa rumah beratap tanpa dinding. Sebelah selatan adalah  rumah penduduk,sebelah timur adalah pohon dan disebelah barat adalah mesjid. Dipagari oleh kayu, dengan jumlah tiangnya ada 12 tiang untuk penyanggah rumah dan 2 tiang untuk penyanggah atap tangga. Tangganya hanya terdapat 1 buah tangga, tidak memiliki jendela, dibawah rumah terdapat tumpukan batu dengan ukuran tingginya kira-kira 1,5 meter. Memiliki 1 kamar, tidak terdapat kursi di dalam rumah ini, dapur berada di depan tepatnya di dekat pintu. Balla lompoa juga merupakan  kekunoan situs gantarangkeke karena digunakan pula sebagai tempat melakukan upacara adat atau media upacara adat kepada karaeng loe yang diadakan setiap tahunnya. Rumah ini menghadap ke utara kea rah gunung lompobattang dan ditunggui oleh seorang pinati atau orang yang dipercaya memilii kelebihan di bidang spiritual atau sama kedudukannya dengan dukun (M.Irfan, 2007).
              Keseluruhan alat dimaksud dijaga dengan baik oleh seorang Pinati (Penjaga) yang ditugaskan oleh pewaris kerajaan. Pinati ini semacam Sejarahwan yang mengetahui benar seluk-beluk sejarah Bonthain, termasuk kisah Balla' Lompoa dan isinya. Oleh pihak pewaris kerajaan, tiap tahunnya dilakukan pencucian benda-benda pusaka. Kegiatan ini lazim disebut dengan Accera' Kalompoang (Ambaixe,2010).


Gb.4 Balla Lompoa
Doc : Suryatman

D. Hasil wawancara
              Salah satu cara mendapatkan data dilapangan yaitu dengan wawancara langsung dengan masyarakat setempat. Adapun hasil wawancara di situs Gantarangkeke adalah sebagai berikut :
a. Passaungeng Taua
              Menurut narasumber yaitu Pak Rahim, bahwa dahulu tempat ini dibuat oleh para raja untuk mempertarungkan orang-orang yang mereka anggap paling kuat di daerahnya. Orang yang akan bertarung, kakinya ditanam di tanah sebatas betis, yang kalah dipersilahkan duduk pada tempat yang disediakan. Tempat ini terakhir digunakan pada saat orang dipertaruhkan sudah berkurang dan diganti oleh ayam. Disamping Passaungeng Taua terdapat Paddadarangeng yang berfungsi sebagai tempat pergantian orang yang akan bertarung. Lubang-lubang yang terdapat pada Paddadarangeng untuk menyusun telur.
b. Pocci Butta
              Temuan ini merupakan pusat tanah, masyarakat setempat meyakini bahwa batu yang ada di tengah temuan ini, jika dipindahkan maka akan keluar angin. Hal ini menurut narasumber kami yaitu  Pak Rahim yang kami dapat pada wawancara langsung dengan beliau.
c.    Balla Lompoa
              Temuan ini tidak pernah diubah. Daeng Danni adalah orang yang menghuni rumah ini. Apabila Daeng Danni sudah tidak kuat atau tidak mampu lagi mengurus Balla Lompoa, maka daeng Danni akan diganti oleh keturunannya. Hal ini menurut narasumber kami yaitu pak Rahim.

















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Gantarangkeke merupakan kota yang memiliki kekunoan. Salah satu buktinya adalah pocci butta yang merupakan pusat dari kota Bantaeng. Kemudian balla lompoa ditempati oleh seorang pinati (Orang yang dipercaya memiliki kelebihan di bidang spiritual atau sama kedudukannya dengan dukun).
B.     SARAN
Saya mengharapkan situs ini tetap dijaga, dikembangkan dan dilestarikan.















DAFTAR PUSTAKA

Ambaexe,2010, Balla' Lompoa in Bonthain, Online, (http://bonthain.blogspot.com/2010/03/balla-lompoa-in-bonthain.html), Diakses tanggal 30 Maret 2010
Anonim, 2009, Bantaeng sebagai Butta Toa, Online, (http://bonthain.blogspot.com/2010/01/bantaeng-sebagai-butta-toa.html), Diakses tanggal 30 Maret 2009.
Mahmud, M. I., Duli, A., Nur, M., Thosibo, A. dan Hakim, B.,2007, Bantaeng Masa Prasejarah ke Masa Islam,Masagena Press, Bantaeng.